Penjual Souvenir Bogor di Taman Topi

Saya melewati kiosnya secara tak sengaja ketika hujan turun tiba-tiba. Siang itu, Selasa dua pekan lalu,  saya baru saja memarkir motor di parkiran Taman Topi, sebuah taman tepat di samping stasiun kereta api  Bogor. Di Taman yang bangunan-bangunannya berbentuk topi itu, dengan dua teman, rencananya kami akan membicarakan sebuah buku yang tengah kami tulis. Karena mereka datang ke Bogor naik kereta, maka, demi kemudahan, disepakati pertemuan dilakukan di sebuah café di Taman Topi.

Saat baru meninggalkan motor itulah  hujan deras datang.  Saya berlari, dan, begitu saja saya masuk dan berteduh di kiosnya yang terbuka.  Ketika  itulah lelaki  tersebut  memandang saya dengan matanya yang ramah. Dan saya baru sadar  ternyata saya berada di sebuah toko souvenir. Tampak perkakas-perkakas pembuat souvenir tergeletak di atas sebuah meja.  Di dalam dan di atas meja kaca terlihat pajangan beragam jenis cinderamata, dan yang paling banyak dan mencolok mata, replika Tugu Kujang, tugu kebanggan warga kota yang sayangnya kini di sampingnya  berdiri sebuah hotel  -yang entah kenapa  Wali Kota Bogor mengeluarkan izin-  sehingga tak saja membuat penampilan tugu itu terganggu juga membuat tak bisa lagi para penghuni kampus IPB memandang Gunung  Salak dari kampus mereka. Ya, dulu ketika Gedung IPB dibangun atas prakarsa Bung Karno, Presiden pecinta keindahan ini sudah memperhitungkan sebuah pemandangan indah di kejauhan depan kampus itu: Gunung Salak.

Pak Adjam di kiosnya di Taman Topi, Bogor.

“Saya membuat sendiri. Sudah puluhan tahun saya membuat ini,” ujar pria bernama Adjam, pemilik kios souvenir itu.  Ia kemudian mengambil keranjang kecil, berisi puluhan gantungan kunci. “Ini dari buah kenari,” katanya lagi. Saya mengambil satu dan mengamati. Buatannya rapi, catnya bagus dan di atas tubuh kenari itu, terukir tulisan “Bogor” atau coretan-coretan hiasan.

Pak Adjam berjualan souvenir di Taman Topi sejak 1986. Sebelumnya sejak 1961  ia berjualan souvenir di dalam Kebun Raya. Walau ketika itu ia kerap melihat acara kepresidenan di Istana Presiden yang bersanding dengan Kebun Raya, ia mengaku tak berani mendekat. “Banyak pasukan Cakrabirawa,” ujarnya. Berjualan di Kebun yang dibangun oleh  Gubernur Jenderal G.A.G.P. van der Capellen pada 1817, itu merupakan masa-masa jayanya. Banyak pengunjung membeli souvenirnya. Menurut Pak Adjam ketika itu ada beberapa penjual souvenir seperti dirinya. Seperti dirinya, souvenir-souvenir itu sebagian besar buatan  mereka sendiri.

Lalu semua berubah setelah peristiwa G30S. Ia tak diperkenankan lagi berjualan di dalam Kebun Raya, demikian pula teman-temannya yang lain. Maka, setelah sempat kesana- kemari,  ia pun memilih membuka kios di Taman Topi. Temannya yang lain berpencar. Ada yang memilih berjualan dengan cara mengasong.

Hasil karya Pak Adjam

Sebagai pengrajin ia kerap diajak berpameran oleh Pemerintah Bogor. “Lihat ini,” katanya tiba-tiba mengangkat tumpukan kertas.  Saya amati, ternyata itu  tumpukan berbagai penghargaan yang pernah ia terima. Isinya semua sama, berkaitan dengan keterampilannya, ketekunannya, atau kehandalannya dalam membuat souvenir yang berkaitan dengan hal-hal berbau kota Bogor. Jejak pengabdian dan  ketekunan pria berumur 80 tahun ini sebagai pengrajin terekam di dalam puluhan penghargaan yang sebagian dilaminatingnya.

Walau memiliki tujuh anak dan 26 cucu Pak  Adjam yang USA –urang Sunda asli-  ini mengaku tak ada satu pun di antara mereka yang menekuni atau mengikuti jejaknya membuat dan berdagang souvenir.  Dia juga, demikian menurutnya, mungkin satu-satunya pengrajin souvenir dari generasinya yang masih aktif membuat souvenir. “Yang lain sudah berhenti atau meninggal,” katanya. Suaranya perlahan, seperti mengingat teman-temannya yang sudah pergi.

Siang itu saya membeli dua souvenir gantungan kunci dari kiosnya. Nah, jika suatu ketika Anda ke Bogor, mampirlah ke kiosnya. Kiosnya terletak tak jauh dari pintu masuk di seberang toko Matahari. Di kartu namanya yang sederhana, hanya berupa fotocopian, tertera nomor teleponnya: 089606449189.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s