Memberi Pelatihan Cara Menulis Opini untuk Pranata Humas se-Indonesia

Bagaimana cara menulis opini yang baik?  “Siapkan argumentasi yang kuat, dan sajikan tulisan Anda dengan lead dan ending yang memikat,” demikian saya memberi tip kepada sekitar 250-an humas di Salak Tower, Bogor, Jumat pekan lalu.

Memberi pelatihan menulis opini bukan hal baru bagi saya. Bersama Tempo Institute, sudah belasan kali saya memberi pelatihan menulis opini, baik di kantor Tempo maupun di luar, di Jakarta atau luar Jakarta. Pesertanya beragam: para mahasiswa, peneliti, dosen, juga berbagai staf departemen. Yang saya ingat antara lain: Kementerian Luar Negeri, Para peneliti sawit di pusat penelitian sawit Medan, juga para staf Kementerian Keuangan.  Lihat: Pelatihan Anti Hoaks di Cimahi dengan Tempo Institute

Namun, pekan lalu itu, istimewa. Bukan hanya dari segi jumlah, lebih dari 200-an orang, tapi mereka adalah pranata humas, figur-figur yang berada di garda depan pemerintahan –pusat maupun daerah. Sebagian sudah berumur, sebagian masih imut-imut.

Ini acara yang diinisiasi oleh Kominfo, acara untuk para pranata humas se-Indonesia.  “Saya dapat nama Mas Baskoro dari Tempo Institute dan juga saya melihat di internet,” kata seorang penitia saat menghubungi saya dan meminta saya berbicara dalam acara tersebut.  Saya memang pernah memposting tulisan “bagaimana cara menulis opini,” tapi tentu saja tulisan itu masih jauh dari detail untuk seseorang bisa mengerti dan paham, terutama, praktik menulis opini yang baik, benar, dan efektif.

 

Menulis opini memang tak  mudah, kendati juga bukan berarti sangat sulit. Yang diperlukan adalah teknik dan kemauan. Lebih penting lagi: memiliki alasan kuat kenapa ia mesti menulis opini. Teknik itulah yang saya ajarkan. Juga tip jika seseorang menulis opini tetapi tidak dimuat di media massa. Silakan baca: Ketika Saya Menulis Biografi

Seorang peserta, misalnya,  bercerita ia menulis opini tentang hewan-hewan yang dijadikan maskot dalam Asia Games, dan ia menulis kritik tentang maskot yang dinilainya ada yang tak tepat. Ia seorang ahli biologi, dari LIPI. “Tidak dimuat di Kompas, padahal menurut saya penting,” katanya.

Saya setuju dengan beliau. Ia pakar biologi, tentu ia memiliki argumentasi kuat soal isi tulisannya dan saya yakin menarik.

“Apakah bapak menulis dalam pengantar apa pentingnya opini bapak?” saya bertanya. Ia menggeleng. “Nah itu, salahnya,” kata saya.

Ini salah  satu kiat yang saya ajarkan agar sebuah tulisan  bisa dimuat di media massa. Redaktur mesti tahu apa pentingnya opini itu dikirim ke mejanya. Dan tugas penulis opini menjelaskan. Karena saya pernah menjadi Redaktur Eksekutif Koran Tempo saya paham tidak semua redaktur paham kenapa seseorang menulis opini dengan tema tertentu.  Bagaimana pun pengetahuan redaktur pun terbatas. Ia perlu diberi penjelasan: kenapa tulisan itu penting; kenapa opini ini layak dimuat…

Cukup lama dan panjang saya memberi “kuliah” bagaimana cara menulis opini. Bagaimana memulainya, mengakhirnya, juga bagaimana mendapatkan “daging” tulisan.

Saat saya meminta para peserta praktik membuat outline opini, beragama ide tulisan masuk,  lengkap dengan outlinenya. Karena para peserta beragam asalnya, maka tema opini mereka pun beragam. Tapi, semuanya tetap memiliki peg, aktualitas sebuah tulisan seperti apa yang saya ajarkan.  Saya senang karena, artinya,  mereka setidaknya sudah memahami bagaimana mencari ide sebuah tulisan dan membuat outline, sebuah dasar untuk membuat opini.

Acara yang digelar di lantai 5 Salak Tower itu juga kemudian mempertemukan saya dengan teman lama, Johan Budi SP, yang kini jadi juru bicara Presiden Jokowi.  Jo, demikian saya memanggilnya, mengawali karir wartawannya sebagai wartawan Majalah Forum Keadilan –seperti saya juga. Johan sarjana teknik UI yang “nyasar” ke jalur jurnalis. Bersama Johan, kami menjadi anak buah Bang Karni Ilyas yang kini menjadi pemandu acara yang sering dituding kontroversial, ILC yang sebelumnya bernama JLC  -Jakarta Lawyer Club- di TV One. Johan kemudian pindah ke Tempo, seperti saya juga, sebelum kemudian ia pindah dan melamar menjadi juru bicara KPK  -hal yang kami, di Tempo, kala itu, tidak menduga.

Johan berbicara pada Sabtu, sehari setelah saya. Sabtu itu saya datang, saat itu Jo tampil bersama pembicara lain dalam sebuah talkshow. Jo menceritakan pengalamannya saat menjadi jubir KPK dan jubir Presiden sekaligus memberi tips bagaimana menjadi humas yang baik di era sekarang. Saat ia bicara saya masuk diam-diam dan duduk di belakang, walau sejam sebelumnya ia sudah mengirim pesan lewat WhatsApp. “Kamu di mana? Aku sudah di ruangan,” ujarnya.

Johan Budi SP dalam acara pranata humas se-Indonesia

Lama saya tidak bertemu Johan, mungkin tiga atau empat tahunan. Seingat saya, pertemuan terakhir adalah ketika saya mampir ke ruangannya, ruang jubir KPK,  di Kantor KPK. Jo memang  menjadi terkenal karena posisinya sebagai  jurubicara KPK. “Di KPK dulu ada komitmen, yang hanya bisa menyampaikan pernyataan kepada pers adalah Ketua KPK dan jurubicara….” kata Johan di depan para peserta. Menurut Jo, sangat penting untuk menentukan siapa yang boleh berbicara kepada pers agar informasi kepada masyarakat jelas dan juga tidak tumpang tindih.

Johan tetap saja Johan seperti dulu,  senang guyonan. Di forum kemarin misalnya, dia  bercerita tentang kepopulerannya jika berjalan ke daerah. Saat berkunjung ke Papua, misalnya, Presiden Jokowi pernah heran melihat bagaimana warga Papua, terutama para wanita dan ibu-ibu,  setelah meminta berfoto bersama  Presiden,  giliran selanjutnya mengerumuni dirinya untuk mengajak berfoto. “Mungkin karena saya dulu sering masuk TV,” ujarnya sembari tertawa dan disambut tertawa juga oleh peserta.

Dan memang ia popular. Usai acara dan saat melangkah ke luar ruangan, sejumlah peserta,terutama perempuan, memintanya foto bersama dan selfi. “Woi, kamu,” katanya ketika saya menepuk pundaknya dari belakang saat ia tengah diseret seorang gadis manis ber-selfi.

Bersama Jo saya kemudian menikmati kopi yang disediakan panitia di ruang  khusus. “Habis ini saya ada acara lagi,” ujarnya. “Kapan-kapan kita ketemu lagi,” katanya lagi. “Bersama teman-teman lain,” saya menimpali. Ia senang saat saya memberikan novel saya, Rumah di Atas Kahayan, yang baru terbit dan sudah dilaunching di Palangkaraya beberapa pekan sebelumnya, novel yang berkisah tentang indahnya keberagaman dan pluralism pada anak-anak sebuah sekolak katolik di Palangkaraya yang terkenal ke disiplinannya. Lihat Cerita Launching Novel Rumah di Atas Kahayan

 

 

 

Jo jelas sangat sibuk, dan tentu beberapa bulan lagi makin sibuk lantaran ia harus menyiapkan diri bertarung untuk bisa masuk Senayan. Saya doakan teman saya ini bisa duduk menjadi anggota DPR. Siang tadi, saya membaca pernyataanya yang “sedap,”  yang menyatakan, PDIP akan langsung memecat kadernya yang tertangkap tangan karena kasus korupsi.

Seingat saya ini pernyataan pertama Johan sebagai “politisi”  PDIP. Pernyataan, seperti saya katakan tadi, “Sedap..”

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s