Ke Bangkok, Menikmati Budha (Jalan-jalan ke Wat Arun dan Wat Pho) Bagian I

Bangkok, demikian, menurut survei, menjadi salah satu destinasi wisata terpopuler orang Indonesia pada 2018.

Tapi, kalau saya ke sana bersama istri dan Lintang, bukan karena survei itu. Ya, karena keinginan sudah lama –dan ada sedikit biaya yang ditabung istri dan anak. Jadi, saya ya ikut saja. Bagian angkat koper dan tawar-menawar. Demikian pembagian kerjanya.

Pembagian kerja itu sudah dimulai sebelum berangkat. Anak sulung saya, yang sudah pernah ke sana dengan teman-temannya, mencarikan hotel lewat internet. Juga tiket murah meriah. “Nginap di daerah Hua Lampong, dekat China Town,” ujarnya. “Dekat ke mana-mana,” katanya meyakinkan. Lalu bersama adiknya, Lintang, mereka membuat jadwal perjalanan selama di Bangkok. Apa saja yang wajib dikunjungi. Pagi dan malamnya.  Tentu saya tidak tinggal diam. Saya juga mengumpulkan berbagai informasi bagaimana kalau di sana. Dari peta lokasi penginapan, harga karcis dan makanan, rute-rute jalan ke tempat wisata dll.  Juga tempat wisata, seperti museum, taman kota, makanan khas yang mesti dicicipi  lengkap dengan harganya. Semua  sudah dalam kepala dan buku catatan saya.

Lalu, terbanglah kami bertiga Jumat pagi, 18 Januari lalu, ke Bangkok. Penerbangan cukup nyaman. Saya mencatat hanya sekali pesawat tergoncang menjelang sekitar setengah jam sebelum mendarat di Bandara Don Mueang, bandara tua – tempat pasukan elite TNI AD pernah menyikat para teroris yang membajak pesawat Garuda DC-9 Woyla pada 1981. Operasi pembebasan, dikenal dengan “Operasi Woyla” yang melambungkan nama pasukan khusus TNI AD, Kopassandha, yang kemudian berganti menjadi “Kopassus” itu. Yang melambungkan juga nama Benny Moerdani sebagai salah satu jenderal paling hebat –dan menjadi legenda-  di Indonesia.

Baca: Pengalaman Mewawancarai Beny Moerdani

Tentu dibanding bandara baru, Suvarnabhumi, Don jauh lebih sederhana. Don Mueang, menurut saya, mirip Bandara Halim, Jakarta.

Tak mungkin naik kereta atau bus dari sini. Bus tak dijamin jam berapa kedatangannya, juga berapa lama menuju hotel. Itu karena, pasti jalan menuju bandara macet. Sejak awal, kami sudah merencanakan naik taksi. Taksi bandara, bukan taksi di luar bandara. Ini perlu dicamkan. “Karena kadang-kadang sopir taksi di luar bandara nakal, apalagi mereka juga banyak gak bisa bahasa Inggris. Pintaran sopir taksi orang Indonesia,” ujar seorang teman. Saya mengikuti nasihatnya. Bukan karena tak takut dinakali, tapi semata, menurut saya, taksi bandara tentu mereka semua ini sudah tercatat namanya dan gampang melacaknya jika ada apa-apa.

Untuk mendapatkan taksi ini kita menuju dulu gate 8. Mengambil nomor antre, dan saat nomor antre kita muncul di layar, kini segera diminta menuju tempat pendaftaran. Dan di sana sudah ada sopir taksi yang rupanya sudah mendapat giliran untuk mengangkut penumpang. Sekitar 250 baht (sekitar 250 ribu) ongkos yang mesti saya bayar sampai ke hotel. Di luar itu, harus mengeluarkan uang tol 70 dan 50 baht lagi karena melalui dua pintu tol. Saat menuju bandara, empat hari kemudian, taksi saya  ternyata hanya melewati satu pintu tol dan membayar 50 baht.

Lantaran sampai hotel sudah agak malam. Malam itu kami hanya putar-putar sekitar hotel dan jalan-jalan ke stasiun kereta Hua Lampong untuk observasi. Ini stasiun kereta bawah tanah (MRT). Keretanya persis seperti kereta commuterline di Jakarta. Di bangkok namanya BTS, The Bangkok Mass Transit System.

Bersama mbak penjaga home stay yang ramah

Hari Pertama, Tujuan Utama

Dalam catatan Lintang, hari pertama adalah mengunjungi Wat Arun, Wat Pho, Grand Palace dan malamnya ke Asiatique. Tiga candi itu memang wajib untuk didatangi siapa pun yang “hinggap” di Thailand.  Wat Arun merupakan  salah satu candi Budha tertua di Thailand, dibangun pada 1768. Ada pun Wat Pho terkenal ke seluruh dunia lantaran di dalamnya ada patung Budha sedang leyeh-leyeh (Reclining Buddha) sepanjang 47 meter dan tinggi 15 meter. Grand Palace bekas istana raja yang didalamnya ada patung  Emerald Budha yang disebut-sebut  tersuci se-Thailand. Ada pun Asiatique, tempat wisata petang dan malam yang kini tengah “top-topnya, ” baik untuk warga Bangkok maupun  turis yang berkunjung ke negeri berjuluk gajah putih tersebut.

Rute yang sudah ditetapkan, naik taksi ke Wat Arun dan setelah itu berkunjung ke tempat lainnya. “Ke Wat Arun pagi karena masih sepi. Kalau siang sudah ramai,” kata Lintang, mengutip “perintah” kakaknya.

Maka pagi itu setelah sarapan di hotel, kami mencegat taksi untuk mengantar ke Wat Arun. Saya memegang nasihat teman, “Cari taksi yang meteran, memakai argo.” Benar juga. Taksi berhenti dan sang sopir dengan bahasa Inggris terbata-bata minta 200 baht. Saya langsung menimpali, “Pakai meteran, ya bro…” (tentu saja dalam bahasa Inggris), yang langsung disetujui  -mungkin karena kami, dianggap “penglaris.” Dan ongkosnya, setelah menempuh jarak cukup jauh tapi tidak macet karena masih pagi, ternyata memang “hanya” sekitar 100 baht, Rp 45.000.

Wat Arun, yang terletak di tepi Sungai Cho Phraya yang lumayan lebar dan berair coklat dan panjangnya 372 kilometer, masih lengang waktu kami sampai. Tampak sejumlah biksu sedang keluar dari kuil, mungkin habis sembahyang. Untuk masuk tempat ini kita harus membayar per orang 50 baht.

Dari Wat Arun sini, kita bisa melihat Wat Pho di seberang sungai. Udara masih segar, matahari belum memancar terik saat kami naik ke candi itu. Tangganya cukup curam dan menurut saya orangtua harus hati-hati jika menitinya  -atau bahkan tak perlu naik terlalu tinggi. Tinggi candi ini sekitar 70 meter.

Wat Arun memang indah. Seluruh candi itu penuh keramik, porselin dan kaca. Konon, keramik dan kaca itu diambil dari perahu yang terkena musibah saat mau mengantar benda itu ke Cina. Raja Rama I, yang memerintahkan pembuatan Wat Arun yang maknanya “Candi Fajar”.  Candi ini memiliki bentuk yang bisa dibilang sangat lain dibanding candi lainnya di Thailand. Pucuknya menjulang runcing seperti akan menembus awan.

Di sini dulu juga diletakkan Emerald Budha, patung Budha yang dianggal paling suci, sebelum kemudian dipindahkan ke Grand Palace, istana raja. Walau namanya Candi Fajar,  kemolekan Wat Arun,  akan bisa lebih dinikmati petang hari, saat matahari lamat-lamat tenggelam. Karena itu banyak turis menanti matahari tenggelam dengan kongkow di sekitar candi  menjelang petang. Mengabadikan semburan matahari senja yang menimpa porselin di pucuk dan tubuh candi…

Dari Wat Arun kami kemudian menuju Wat Pho. Naik perahu kayu dengam membayar 4 bath. Tak lebih sepuluh menit sampai di dermaga sederhana, yang terletak di mulut sebuah pasar kecil. Dari sini kita berjalan sekitar 500 meter dan hap, sampailah di Wat Pho. Di sepanjang jalan banyak orang berjualan buah-buahan.  Saya sempat minum kelapa muda, di warung, seharga 50 baht. Di pinggir jalan harganya  40 baht.

Bersiap Naik Perahu Menuju Wat Pho

Perahu untuk menyeberang ke Wat Pho

Masuk  wat ini  (wat artinya rumah ibadah)  setiap orang harus bayar 200 baht. Saya melihat rombongan perempuan laki masuk gratis. Rupanya rombongan ini warga Thailand yang akan sembahyang di sana. Saya pikir, kalau ada turis nakal, bisa saja dia masuk  gratis dengan “mengekor” pada rombongan ini.  Tentu turis yang wajahnya seperti orang Thailand. Orang Indonesia misalnya….

Wat Pho

 

 

Begitu melewati pintu penjagaan tiket, belok kanan, sampailan kita ke tempat Reclining Buddha. Patung berlapis emas tersebut tampak kokoh, berbaring. Pengunjung mesti lepas alas kaki dan memasukkanya sandal dan sepatunya dalam tas kresek yang sudah disediakan di sana. Ada yang menjuluki patung sepanjang 46 meter dan tinggi 15 meter ini sebagai “sleeping Buddha.” Tapi ini kurang tepat. Mata sang Budha ini melek. Wajah Budha yang ditampilkan dalam patung ini wajah yang teduh, santai, gembira, dan bahagia. Wajah yang memancarkan kasih sayang –persis seperti ajaran “welas asih” yang disebarkannya. Posisinya, saya bayangkan: sang Budha sedang menikmati keindahan sungai Cho Phraya. Posisi “leyeh-leyeh.” Konon, posisi seperti inilah saat Budha Gautama, saat detik-detik kematiannya, masuk ke Nirwana. Kematian yang indah.

Jika kita berjalan hingga ke ujung kaki Budha, kita bisa mengambil foto Budha leyeh-leyeh ini lebih lengkap. Sejumlah orang sembahyang di sisi patung ini dengan khusuk. Kaki Budha leyeh-leyeh ini tingginya 3 meter dan panjang 5 meter. Di kakinya terarsir 108 lakshana atau simbol Budha. Di sini juga disediakan 108 kaleng kecil yang ke dalamnya kita bisa memasukkan koin yang kita dapat dengan memberikan uang dengan jumlah seiklasnya.

Plung….koin keberuntungan…

 

Baca: Ini Cara Memasang Iklan di Commuterline Jabodetabek

 

Souvenir di Wat Pho

 

Wat Pho merupakan kompleks candi terbesar di Thailand. Tak kurang ada 1.000 patung Budha, dengan berbagai posisi, di dalamnya. Sebelumnya tempat ini merupakan pusat pelatihan dan pengobatan sebelum kemudian dijadikan tempat ibadah. Raja Rama I yang membuat tempat ini dan disempurnakan penerusnya, Rama III.

Silakan klik Jalan Jalan ke Grand Palace dan Asiatique, Bangkok

Di kompleks candi juga banyak relief-relief dan patung-patung yang semuanya berkaitan dengan agama Budha. Jika lelah kita bisa duduk-duduk di selasar yang di sepanjang dindingnya terdapat informasi soal kompleks candi ini. Oh, ya banyak patung yang posisinya, bisa mengundang senyum…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s