ke Bangkok Jalan-Jalan ke Grand Palace dan Asiatique (Bagian II)

Grand Palace. Inilah kediaman raja Thailand masa lalu. Kompleks seluas hampir 218.000 meter persegi (sekitar 2 hektare)  ini berisi sekitar seratus bangunan. Grand Palace dibangun pada 1782 oleh King Taksin Rama I

Cukup jalan kaki dari Wat Pho, candi  berisi  “Budha leyeh-leyeh” itu ke Grand Palace. Secara rutin ada pasukan berkuda yang mengelilingi kompleks ini. Perlu jalan memutar untuk sampai ke gerbang Grand Palace. Karena ini tujuan utama para turis, maka, tempat ini benar-benar ramai. Padat, bahkan, di hari libur orang akan berdesakan. Masuknya juga cukup mahal, 500 baht atawa sekitar Rp 250 ribu per orang. Tapi, menurut saya, dengan keindahan yang kita nikmati, harga itu layak. Semestinya masuk Candi Borobudur pun   jangan murah. Uang dari tiket masuk bisa digunakan semaksimal mungkin untuk merawat benda yang bersejarah itu  -juga meningkatkan kesejahteraan karyawan dan petugas kebersihan.  Oh, ya, masuk ke istana ini mesti berbaju sopan. Dilarang memakai celana pendek, kaos oblong. Mesti ganti atau beli dulu di dekat pintu gerbang.

Baca: Jalan-Jalan ke Wat Arun Lihat Budha Tidur

Budha leyeh-leyeh di Wat Pho

Dikelilingi tembok dan selalu ada pasukan berkuda

 

Grand Palace dipakai sebagai tempat tinggal resmi raja dan keluarganya sampai 1925. Karena itulah di sini ada bangunan istana raja atau  Royal Palace. Di tempat ini pula diletakkan Emerald Buddha, patung Budha berlapis emas setinggi 66 cm, dan  dianggap paling suci se-Thailand.  Patung ini ditempatkan di Wat Phra Kaew. Untuk masuk tempat ini, kita mesti lepas alas kaki. Di depan tempat ini disediakan air untuk dicipratkan ke kepala. Pasti tujuannya baik, dan karena itulah, walau bukan orang  Budha, saya ikut-ikutan mencipratkan air itu ke kepala saya. Siapa tahu 2019 ini rezeki makin lancar   -bisa ke Thailand lagi….

Kepala basah, minta rezeki -juga mengademkan sirah

Semua bangunan di tempat ini menghadap ke utara. Secara umum kompleks ini dibagi tiga kelompok: bagian luar, dalam dan tengah. Karena luas, cukup capek mengelilingi tempat ini –dan saya kira butuh berjam-jam kalau  mau blusukan ke seluruh  kompleks  tersebut. Di dalam kompleks juga ada museum dan peta letak bangunan yang tertempel di sebuah bangunan yang cukup nyaman untuk menyelonjorkan kaki. Istana raja, Royal Grand Palace mencolok, mencuat, dengan semua ornamen berwarna emas. Indah,agung, menakjubkan.

Baca juga: Jalan-Jalan Ke Chinatown dan Pasar Chatuchak Bangkok

Di Grand Palace juga terdapat patung Budha bersila layaknya seperti yang kerap kita lihat di Candi Borobudur. Memang patung itu berasal dari Jawa. Dipersembahkan oleh Kerajaan Jawa untuk Kerajaan Thailand.

Patung Budha dari Jawa

Walau tak ditempati raja, sampai kini upacara penting kerajaan tetap berlangsung di sini, seperti pernikahan, penobatan dll. Raja Bhumibol Adulyadej yang meninggal pada 2016 jasadnya juga disemayamkan di sini. Beribu orang, warga Thailand, datang ke tempat ini, memberi penghormatan terakhir kepada raja yang sangat mereka cintai itu. Jelas ini juga kesempatan langka rakyat untuk masuk Royal Palace yang tertutup bagi umum.

Saat menuju Grand Palace itulah saya melihat ada petunjuk bahwa ada bis kota dari depan Istana ini yang menuju Asiatique. Maka, kami putuskan untuk ke tempat wisata itu naik bus kota ini. Ongkosnya murah meriah layaknya bus kota, 10 baht. Istri dan Lintang setuju untuk menjajal moda yang satu ini.

Tapi sungguh saya tak menyangka bus ini lelet jalannya. Penumpangnya sedikit, dan sopir dan kondekturnya, seorang gadis ABG, terlihat santai-santai saja. Setiap saya tanya, apakah sudah mendekati Asiatique, si kondektur ini hanya bilang, “No…no..” saja.  Agaknya hanya itu yang bisa ia ucapkan. Hanya, asyiknya, bus ini melewati banyak jalan, juga pasar. Jadi, saya anggap ini wisata juga….

Abang sopir yang nyantai…

Sekitar dua jalam perjalanan dengan  “bus PPD” ini sebelum kemudian, sampai ke Asiatique. Selama itu pula, saya beberapa kali sempat  tertidur, bangun, tidur, bangun, tidur lagi…. sebelumnya akhirnya, horeeee,   tiba di Asiatique, sekitar pukul 15.00. Masih sepi karena tempat ini sesungguhnya semacam tempat hiburan yang, jam bukanya mulai pukul 17.00

Asiatique dibangun pada 2012. Tempat ini menjadi tempat hiburan, belanja, jalan-jalan, kongkow tua dan muda. Nama kerennya: Asiatique  The River Front.  Baju, makanan, souvenir, tempat ngopi jadi satu di sini. Tercatat ada sekitar 1.000-an butik dan 40 restoran di sini. Jadi, tempat ini bisa sekaligus untuk memcari oleh-oleh untuk keluarga di kampung, pacar, calon mertua dll….

Di sini saya mencoba sejumlah makanan khas Thailand seperti  mangga yang dikasih semacam saus dan ketan. Namanya, manggo sticky rice, harganya 100 baht.

Untuk menarik pengunjung sebanyak mungkin, disediakan kapal gratis pulang-pergi dari stasiun kereta terdekat, Saphan Taksin, ke tempat ini.  Kapal terakhir menuju Saphan Taksin pukul sebelas malam. Jadi, jika datang sore hari, cukup puaslah kluyuran di sini sebelum balik kanan, pulang.

Petang adalah waktu yang tepat untuk bersantai di pinggir Asiatique yang bersisian dengan Sungai Chao Phraya. Kapal-kapal hilir mudik dengan tenang. Oh ya, bagi mereka yang ingin menikmati malam hari di atas kapal sembari makan-makan, tersedia pula jasa yang menyediakan fasilitas semacam ini.  Tiketnya bisa dibeli di dekat dermaga Asiatique. Para tamu, menyantap makanan, sementara kapal dengan lampu-lampunya yang gemerlap yang mereka tumpangin menyusuri sungai…Sekitar tiga jam kami keliling-keliling Asiatique. Melihat-lihat pemandangan, makan dan “ngupi-ngupi.”

Kapal pesiar yang menyediakan makan malam

 

Ketemu teman lama wkwkwk…

 

Baca: Jalan Jalan ke Wat Arun dan Melihat “Sleeping Buddha”

Pulangnya, kami naik kapal gratis menuju Stasiun Saphan Taksin.  Kami memang berencana menjajal kereta bawah tanah ini.  Ada mesin tiket, ada pula loket.  Tinggal bilang ke mana, petugas akan memberi kartu yang kita gunakan untuk masuk ke peron. Begitu naik kereta ini, maka saya pun  serasa di dalam kereta Commuterline jabodetabek. Yang saya temui wajah-wajah bak di dalam kereta commuterline Bogor-Jakarta. Hanya, bedanya, dialognya, bukan “loe gua, loe gua”…..

Pasang Iklan di Kereta Commuterline Jabodetabek:Cara Pasang Iklan di Commuterline yang Cepat dan Efektif

Mau menulis biografi, silakan hubungi: Spesialis penulis biografi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s