Rabu Hangat, Rabu Anyep di Tempo

Rahman Tolleng telah pulang. Kamis malam lalu teman-teman Tempo menggelar acara khusus untuk mengenang Pak Rahman, demikian biasa ia dipanggil, di kantor Tempo. Hadir dalam acara itu, selain putra Pak Rahman, juga Marsillam Simanjuntak, sahabat Pak Rahman sejak zaman mahasiswa. Moderator acara ini Mardiyah Chamim,”founding mother” Tempo Institute yang secara bergurau kerap saya sebut “Rektor Tempo Institut seumur hidup”…

Rahman dan Marsillam  tak bisa dilepaskan dari komunitas Tempo. Keduanya memiliki tipikal  sama: cerdas, lugas dalam bicara, pribadi yang lurus, sekaligus juga kepala batu. Saat duduk di bangku sekolah menengah, saya sudah mengenal nama Abdul Rahman Tolleng dari buku-buku tentang pergerakan mahasiswa Indonesia.  Rahman pernah menjadi Pemimpin Redaksi Koran Mahasiswa Indonesia yang legendaris itu. Tempat di mana koran itu digodok dan markas ia nongkrong dan menggelar diskusi –juga pertemuan-pertemuan, rahasia maupun terbuka,  dengan berbagai mahasiswa  dari berbagai kota juga melegenda: Jalan Tamblong, Bandung. Begitu penasaran dengan nama ini, pernah suatu ketika, saat saya ke Bandung, saya mencari dan blusukan  ke Jalan Tamblong ini…

Jalan Tamblong (Foto Baskoro)

Rahman pernah menjadi anggota  Golkar dan Pemimpin Redaksi Harian Suara Karya (milik Golkar) sebelum kemudian “dipecat” dari dua tempat itu karena dinilai terlibat Peristiwa Malari (1974).  Ia penganut sosialisme. Aktivis GMSos (Gerakan Mahasiswa Sosialis), organisasi mahasiswa yang berafiliasi pada Partai Sosialis Indonesia.  Perjuangan politiknya: tegaknya demokrasi dan kuatnya civil society  – dan tentu saja  anti  Oligarki.  Ia ikut menumbangkan Orde Lama dan melahirkan Golkar. Ia masuk Golkar karena ia percaya untuk  menciptakan Golkar menjadi partai modern harus dari dalam, berjuang dari dalam. Struggle within.  Ia mengibaratkan  Golkar  satelit sedang ABRI serta birokrasi  “peluncur satelit.”  Dengan demikian, jika Golkar sudah di orbit tak perlu lagi ABRI dan birokrasi di Golkar. Sikapnya ini tak pelak membuat ia disingkirkan. Golkar tak menjelma menjadi  partai seperti diidamkan. “Saya gagal,” ujarnya dalam wawancara dengan sebuah media asing.

Rahman pemikir dan penggerak. Saya kira, setelah ia tak lagi aktif berpolitik di mana-mana, ia menemukan salah satu ruang yang pas untuk menyalurkan gagasan dan buah pikiran “jalan politiknya:  Tempo.

Jika Marsillam bersahabat dengan Rahman dan Goenawan Mohamad (pendiri Tempo) tentu  karena ketiganya memiliki pandangan sama dalam melihat Indonesia: pentingnya demokrasi, pentingnya menjaga pluralisme, pentingnya mengontrol pemerintah  (siapa pun presidennya), dan seterusnya  -hal-hal yang merupakan “sikap Tempo.”  Saya kira, ini pula yang membuat Goenawan Mohamad  “mengirim” dua temannya  ke Tempo.  Masuk dalam rapat penting yang menelurkan sikap Tempo yang tergambar dalam “Opini Majalah Tempo” atau “Tajuk” di Koran Tempo.

***

Rapat Opini Tempo   -biasa disebut “Rapat Opini”-   diselenggarakan setiap Rabu pukul 15.00. Saya tidak tahu sejak kapan ada rapat ini karena saya bergabung dengan Tempo pada 2002 sebelum kemudian tak lagi di Tempo sejak tahun lalu.   Tapi, seingat saya, sejak mengikuti rapat itu, di sana sudah ada Pak Rahman, Pak Marsillam, dan Pak Amarzan Loebis.  Ketika itu, karena redaksi Tempo ada di dua tempat  (Majalah Tempo di Jalan Proklamasi dan Koran Tempo di Velbak, Kebayoran Baru), rapat  berpindah-pindah. Sepekan di Proklamasi, sepekan di Velbak. Sekretaris redaksi yang selalu mengingatkan ketiga orang itu di mana rapat Rabu pekan ini  -supaya tidak nyasar dan salah tempat. Seingat saya, saat mengikuti rapat ini pada awal-awal, di meja rapat terhidang kue dan berbagai penganan uenak-uenak. Juga buah-buahan. Belakangan,   beralih ke  hidangan lebih “minimalis,”  sederhana: pisang rebus, kacang rebus, rujak  -yang terakhir ini cepat ludes ketimbang  kacang, apalagi pisang.  Makanan sehat dan tentu irit dari sisi pengeluaran perusahaan….

Sesuai namanya, “Rapat Opini” rapat  membahas opini-opini apa yang akan keluar pada Majalah Tempo pekan depan dan mengevaluasi Opini dan Tajuk Koran Tempo yang sudah diterbitkan. Rahman, Marsillam, dan Amarzan  evaluator-nya. Tapi, evaluator utama dan pertama adalah Pak Rahman. Pak Rahman selalu datang dengan kesiapan  penuh: membawa kliping opini majalah Tempo dan Koran Tempo yang sudah ia tanda-tandai  dengan stabilo atau bolpoin. Ia selalu muncul dengan sangat rapi:  baju dimasukkan atau dikeluarkan jika berbatik, serta mengapit tas kulit hitamnya. Ia nyaris tak pernah datang telat.  Itu sebab, biasanya,  sekretariat  redaksi kerap menyuruh para redaktur segera masuk ruang rapat dengan kata-kata, “ Ayo masuk, Pak Rahman sudah datang, tuh…”

Sangat jarang Pak Rahman tak datang pada rapat Opini.  Terlambat juga  nyaris tak pernah. Yang saya ingat, selama bertahun-tahun ikut rapat itu, ia absen sekitar satu atau dua kali. Tentu saja rapat tanpa kehadiran Pak Rahman dan Pak Marsillam akan lebih banyak membuat Rapat Opini menjadi rapat yang anyep. Mengalir saja.  Ada pun Pak Rahman,  jika kemudian hadir lagi,  maka itu artinya, ia akan membahas semua  opini dan tajuk yang belum ia bahas. Dengan kedetailan yang sama. Dengan ketelitian tak berkurang seincipun. Dengan kritikan yang sama tajamnya.

***

Para redpel, pemred, dan redaktur senior Tempo. (Bertopi loreng, Amarzan)

Peserta utama Rapat Opini adalah jajaran redaktur pelaksana, dan terutama, yang harus ada, pemimpin kompartemen yang  tulisannya kemungkinan besar  akan “diopinikan.”   Itu antara lain: Kompartemen Nasional, Kompartemen Hukum, Kompartemen Ekbis.  Di luar itu hadir Pemimpin Redaksi dan Redaktur Eksekutif.  Jadi, ini rapat paling “eksklusif” di redaksi dilihat dari sisi  pesertanya.  Tambahan peserta, biasanya, redaktur desain, redaktur bahasa, atau  mereka yang mendapat tugas menulis berita yang akan diopinikan.

Sebagai pemimpin  Kompartemen Hukum  Majalah Tempo  -selama sekitar empat atau lima tahun-  tentu saja saya tak pernah absen mengikuti Rapat Opini.  Biasanya, sebelum menuju Rapat Opini pukul 15.00,  Rapat Redaksi sudah menetapkan apa saja yang layak diopinikan dan dibawa ke Rapat Opini.  Minimal empat tema, karena Opini Majalah itu ada “empat opini.” Dan tema hukum nyaris selalu ada.

Cara Menulis Opini Teknik Menulis Opini yang Baik, Tepat, dan Efisien.

Sebelum mengikuti Rapat Opini, para redpel yang tulisan kompartemennya akan dijadikan opini akan  menyiapkan selengkap-lengkapnya “amunisi” menghadapi peserta rapat, khususnya, trio evaluator dan lebih khusus lagi: Pak Rahman dan Marsillam. Keduanya ini, tanpa ampun, dengan kedinginan luar biasa, akan mengejar semua “cerita” yang ditumpahkan para redaktur, termasuk hal-hal off the record yang ditemui reporter di lapangan. Yang menarik, kadang-kadang informasi wartawan itu juga ditambahi informasi lain oleh Pak Rahman dan Pak Marsillam.  Rapat-rapat yang dihadiri Marsillam biasanya akan lebih lama, karena Pak Marsillam  -selain biasanya akan mengejar dan mencecar terus redaktur yang mempresentasikan rencana tulisannya- juga bercerita macam-macam dengan cara bicaranya yang memikat itu.

Karena itu rapat ini selalu berlangsung hangat, kadang panas. Perdebatan bisa muncul terhadap apa pun: informasi yang disampaikan redaktur pelaksana, pendapat yang disampaikan pemimpin redaksi dll. Juga di antara para evaluator. Pernah saat rapat di kantor Jalan Proklamasi, saya terkaget-kaget melihat Pak Rahman dan Pak Marsillam berdebat.  Dua-duanya berbicara keras dengan nada tinggi. Keduanya memakai idiom “you” untuk mengganti nama lawan bicaranya. Cukup lama dan bikin panas kuping perdebatan itu. (Dan saya membayangkan bagaimana galak dan kerasnya mereka di saat muda)

Selama mereka berdebat panas itu, tentu saja kami tak berani melerai  -apalagi menimpali. Seingat saya, yang merendahkan nada bicaranya terlebih dulu  Pak Marsillam hingga kemudian perdebatan itu berakhir.  Rapat dilanjutkan lagi….

Pernah juga Pak Rahman berdebat dengan seorang wartawan senior. Sama-sama keras dan dengan nada tinggi. Kami juga hanya diam, mendengar sebelum kemudian perdebatan itu selesai. Hanya, dalam kasus ini, saya menyesalkan yang dilakukan teman wartawan itu. Semestinya ia tak melakukannya terhadap Pak Rahman yang jauh lebih tua.

Tapi inilah Tempo. Perdebatan hal yang biasa.  Yang pasti seusai rapat, semua berjalan baik kembali. Semua menjadi cair lagi. Tertawa lagi.  Ruang rapat opini kadang  -menurut saya-  memang menjadi ruang uji untuk pendapat dan nilai (value)  yang diyakini siapa pun.  Untuk para wartawan –apalagi tingkat redaktur- itu jelas penting. Karena nilai-nilai, pendapat, sikap, yang muncul dan disepakati dalam rapat ini, itu adalah “sikap Tempo.”  Sikap itu harus sama pada seluruh isi kepala  wartawan Tempo.

Dulu para penulis opini hanya orang-orang tertentu, para redaktur senior. Marsillam juga menulis opini, khususnya berkaitan dengan hukum.  Sebelum menulis biasanya dia akan menelpon redaktur pelaksana menanyakan dengan detail bagaimana isi tulisan yang akan muncul.  Ini kadang  merepotkan karena acap bahan-bahan yang dikumpulkan wartawan dari lapangan belum lengkap. Belum clear. Karena itu, untuk bersiap menghadapi Pak Marsillam, sebelum ia menelpon,  biasanya saya sudah baca semua bahan, kliping, dan berbagai dokumen yang akan saya tulis. Pernah suatu ketika seorang redaktur mengadu karena  ia disemprot Pak Marsillam lantaran tidak bisa menjawab pertanyaan Marsillam. “Lha ini kan sumber-sumber masih dikejar, emang gua tahu semuanya,” ujarnya bersungut-sungut. Tapi harus diakui tulisan opini Marsillam sangat bagus.  Jernih, struktur tulisan tertata bagus, pemilihan diksi-nya mengagumkan.

Belakangan,  “jajaran penulis opini”  diubah. Mereka,  penulisnya, terutama para pemimpin kompartemen. Pak Marsillam tak lagi menulis. Jadi, jika berkaitan kasus hukum, maka, biasanya, saya diminta yang menulis  -dan mana mungkin bisa menolak.  Ini sesungguhnya merepotkan dan berat karena setelah mengedit delapan hingga sepuluh tulisan berita hukum per pekan, harus  mencurahkan lagi  pikiran untuk menulis opini. “Menulis opini itu berat ya, terutama membayangkan wajah Pak Rahman nanti di ruang evaluasi membaca tulisan kita,” ujar seorang rekan sembari menguap berkali-kali  ketika, pada suatu Sabtu subuh di kantor di Jalan Proklamasi, saya dan dia masih berkutat menulis opini. Saya menulis opini hukum dia menulis opini rubrik nasional. Seorang reporter yang sedang tidur-tidur ayam di atas sofa merah di depan meja saya terkikik mendengar curhat seniornya itu.

Belakangan, siapa penulis opini diubah lagi, yakni menjadi bergiliran.  Semua berpangkat “redaktur utama” wajib menulis opini dan tajuk.

Namun, ini juga jadi  masalah karena tak semua mereka berpangkat “redaktur utama” dinilai bisa menulis “opini” dengan baik. Para editor mengeluh adanya tulisan opini yang jelek dan harus  jungkir balik mengedit.  Dan para evaluator (Pak Rahman cs) berkali-kali  mendamprat  dan kesal, “Tulisan kok begini,  tidak fokus, isinya tak sesuai yang diputuskan rapat..”   Atau lebih “sadis”,   “Ini penulisnya tak layak menulis opini,  tulisan  blepotan… ” Maka, akhirnya,  dicoretlah sejumlah nama  yang dinilai  “tak becus  menulis “opini Majalah.”  Jadi, penulis opini majalah Tempo adalah  para “redaktur utama pilihan.”  Agak berbeda  dengan koran…

***

RAPAT Opini dimulai dengan membahas opini yang sudah dimuat. Pak Rahman akan memulainya dengan mengeluarkan komentarnya. Jika memulainya dengan mengatakan,  “Opini pekan ini bagus-bagus…” Biasanya kami segera menarik nafas lega. Tak ada lagi ketakutan bakal “dibuli, didamprat atau diolok-olok  –bahkan oleh sesama wartawan yang seolah-olah mendapat kesempatan untuk itu.

Tapi, kalimat  “opini pekan ini bagus-bagus” termasuk langka.

Pak Rahman selalu berhasil menemukan kelemahannya  -bahkan dalam opini yang mendapat pujian dari banyak orang. Tidak hanya dari gagasan atau argumentasi,  juga diksi, lead atau  ending opini itu. Jika ia melihat opini yang isinya dinilainya terlalu memihak penguasa  dan ia tak setuju, ia akan berucap, “Tempo sudah beda ya, sepertinya sudah berpihak  hehehe…” Ia mengucapkannya sembari tertawa. Tentu saja para wartawan menyergah, “Tidak Pak, tidak!”

Setelah Pak Rahman memberi evaluasi, giliran berikutnya  biasanya Pak Amarzan. Namun,  jika Pak Rahman sudah panjang lebar membahas sebuah opini dan Pak Amarzan merasa kritik yang akan disampaikan sudah terwakili oleh Pak Rahman, maka saat diminta Pak Rahman memberi masukan biasanya ia berkomentar, “Sama Pak…”

Kata “sama Pak” yang sering dilontarkan Pak Amarzan ini kerap menjadi guyonan wartawan. Misalnya, jika Pak Rahman, setelah membahas opini, dan menyilahkan Pak Amarzan berkomentar, beberapa wartawan, dari deretan belakang,  segera  berteriak, “Sama Pak!”  Semua tertawa.

Usai evaluasi opini, rapat dilanjutkan membahas “rencana opini minggu depan.” Para redaktur mempresentasikan yang akan mereka tulis. Urutan pertama, pembahasan Laporan Utama .   Dari “apa dan bagaimana” laput ini, kemudian didiskusikan “apa sikap Tempo” atas berita tersebut.  Inilah puncak  rapat. Membahas  sikap, pendapat, juga usul Tempo  yang akan diwujudkan dalam tulisan sepanjang 4.500 karakter.

Di sini pentingnya Rahman, Amarzan, Marsillam. Memberi masukan sikap, juga argumentasi atas  pilihan sikap yang diambil. Inti semuanya bermuara satu: Tempo tetap independen, di tengah, berani melawan arus, berpihak pada publik, pada  kebenaran.  “Apa itu istilahnya,  alfurqon, pembeda,” demikian saya ingat sekali kata-kata Pak Marsillam. Tentu pendapat ketiganya  juga kemudian ditambah pendapat dari pemred (jika hadir) atau redaktur senior.  Semua hasil rapat dicatat, sehingga penulis opini tidak lupa dan yang ditulisnya benar-benar “tegak lurus”sesuai hasil dan permintaan rapat. Tulisan opini dari penulis  akan diedit para redaktur yang juga redaktur pilihan. Juru masak ini yang “mengolahnya”  menjadi lezat, menjadi “enak dibaca dan perlu.”

Tempo yang berpindah-pindah: Cerita Tempo Akhirnya Punya Gedung Baru -dan Megah

Setelah gedung Tempo di Proklamasi dijual dan semua redaksi berkantor  di kantor Tempo  di Velbak yang berupa ruko, rapat  tak lagi berganti-ganti tempat. Di sini Pak Marsillam masih kerap hadir. Tapi, setelah  gedung  di Velbak dijual dan semua pindah ke kantor baru di Jalan Palmerah Barat, Pak Marsillam tak pernah lagi datang. Alasannya jalan menuju kantor Tempo macet. Itu benar adanya. Jalan Palmerah memang padat luar biasa. Penuh angkot dari dan menuju Tanahabang dan sesuka hati ngetem di mana-mana.

Gedung Tempo

Tapi  rapat-rapat  opini  tetap hangat dengan duet Pak Rahman dan Pak Amarzan.  Belakangan, evaluator diperkaya dengan hadirnya  Yopie Hidayat, mantan redaktur Tempo yang pernah memimpin mingguan ekonomi Kontan dan menjadi juru bicara Wakil Presiden Budiono. Yopie memberi banyak  informasi dan perspektif  isu-isu ekonomi. Jadi, lumayan klop: Pak Rahman memberi  perspektif dari sisi politik dan ketatanegaraan, Yopie dari sudut ekonomi makro maupun mikro. Pak Amarzan lebih banyak dari sisi penulisan, diksi, dan sikap Tempo. Belakangan “trio evaluator” Palmerah ini berkurang. Pak Amarzan terkena stroke dan praktis absen dari “rapat reboan” itu.

Dan kini, evaluator  utama rapat opini itu juga pergi  -pulang keharibaanNYA.

Sulit membayangkan suasana rapat opini  -setelah tak ada Amarzan-  juga sekarang, Rahman Tolleng.  Rapat itu mungkin tak akan lagi hangat, mungkin anyep.

Pak Rahman pulang di tengah hiruk pikuk menjelang pilpres. Pertarungan politik yang tentu saja Tempo akan ikut terjun di dalamnya –memberitakan-  dan yang untuk itu pendapatnya sesungguhnya sangat  diperlukan:  memberi arah serta sikap Tempo atas segala isu pilpres akan yang  ditulis.

Tidak hanya Tempo  yang kehilangan Pak Rahman. Juga bangsa ini. Publik. Mereka yang menginginkan demokrasi tumbuh dan menjadi kuat  -dan bukan menuju oligarki  atau sejenisnya. Mereka yang memerlukan orang yang mempunyai keteguhan sikap dan konsistensi tak diragukan mengawasi dan menegakkan apa yang disebut demokrasi. (Lestantya R.Baskoro)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s