Jalan-Jalan ke Bangkok III (Ke Pasar Chatuchak dan Chinatown)

KALAU mau belanja di Bangkok, jangan ke mall datanglah ke pasar Chatuchak. Demikian selalu pesan mereka yang pernah ke Bangkok. “Apa pun ada di sana,” demikian ujar seorang teman lain lagi.

Tempat itu sudah masuk daftar yang akan kami kunjungi. Sudah masuk jadwal petualangan di hari ke tiga di kota yang mirip Jakarta untuk kemacetan itu. Untuk ke Chatuchak kami akan naik kereta. Dari tempat ini rencananya akan “menclok” di Siam. Nah yang ini terkenal karena mall-nya. Juga untuk ke Siam, kami akan naik skytrain, yang mirip kereta Commuterline Jabodetabek, tapi lewat atas, bukan bawah tanah.

Sehari sebelumnya,  kami sudah mengunjungi sejumlah “tempat wajib jika ke Bangkok” : Wat Arun, Grand Palace, Wat Pho juga tempat hiburan senja dan malam, Asiatique.  Kini, di hari terakhir, ya ke pasar  Chatuchak  -lidah saya sering keseleo menyebutnya, cancut ta…  hehe..

Silakan baca: Ke Grand Palace Bangkok dengan efisien

Wat Pho ddengan patung Budha berbaring-nya

Kala sarapan pagi, kami bertemu sebuah keluarga dari Amerika, dari Philadelphia, yang datang ke hotel kami untuk sarapan. Oalah Gusti.. rupanya hotel tempat mereka menginap tidak menyediakan sarapan, sehingga pagi-pagi keluarga ini harus keluyuran cari makan. Ketika saya tanya, apakah mereka ingin ke Bali, Indonesia,  istrinya hanya ketawa. Keluarga yang ramah.

Keluarga dari Amerika Serikat yang keluyuran cari sarapan….

Begitu selesai sarapan, kami langsung jalan kaki ke Stasiun Hua Lamphong sekitar sepuluh menit. Dari sini naik kereta menuju Mochit.  Keluar dari stasiun sudah langsung terhampar pasar Chatuchak.

Masih pagi, masih agak sepi, saat kami datang, sehingga kami bisa leluasa jalan ke mana-mana. Yang baru buka, warung-warung dan restoran di pinggir jalan.

“Recehan dolar Thailand” yang minta dibelanjakan…

Pasar ini memang besar. Segala macam, terutama baju dan souvenir, terlihat di sini. Ada juga  sejumlah kios menjual barang antik dengan tanda larangan untuk mem-foto. (tanda yang menurut saya sia-sia saja, toh orang bisa memfoto dari jarak jauh, juga tak jelas alasan pelarangannya….).  Istri dan anak saya membeli sejumlah baju  -dan itu pasti untuk oleh-oleh dan bukan buat mereka-  sementara saya lebih senang keluyuran,  melihat-lihat souvenir dan membeli kelapa muda dan mangga yang terlihat menggiurkan  -entah kenapa benda itu selalu menggiurkan di hari yang terik atau mulai panas.

Ada yang lucu, di sini, kami ketemu lagi dengan keluarga dari Amerika yang sarapan di hotel kami tadi pagi. Keluarga ini, seperti kami, runtang-runtung ke sana-ke mari. “Hei, mister,” saya sapa dia dan sang mister tertawa. Ramah.

Lucunya (lagi) malamnya saat kami jalan-jalan ke Chinatown, eh nggak dinyana ”ketemu lagi-ketemu lagi” dengan “keluarga pencari sarapan itu.”  Busyet kok bisa ketemu terus. Dunia memang kuecilll…. Kali ini saya ajak dia toss, dan dia, si mister, seperti biasa tertawa. Kali ini, lebih lebar. Mungkin karena perutnya sudah kenyang.

Ketemu lagi dengan keluarga dari Amerika Serikat, dari Philadelphia. Wkwk…

Barang-barang di pasar Chatuchak memang relatit lebih murah. Banyak kaos yang dijual “seribu tiga” seperti di Pasar Tanahabang. Artinya, kalau beli tiga harganya dapat diskon. Sekitar tiga jam kami di tempat ini sebelum kemudian naik kereka ke Siam. Masuk mall di sana, dengan pemandangan yang hampir sama saja seperti di Grand Indonesia atau Plaza Senayan. Dari Siam, dengan kereta, kami pulang ke Hua Lamphong dan di dekat stasiun itu, setelah ke sana-ke mari, akhirnya ketemu sebuah rumah makan yang cukup asyik untuk istirahat sembari mencicipi makanan Thailand. Asyik:  enak, murah, bersih, ada wifi, dan tak jauh dari hotel.

Jembatan Stasiun Siam

Merasakan Mall di Siam, Bangkok

Cara pasang iklan di Kereta Commuterline Jabodetabek: Agen Iklan Kereta Commuterline. Cepat, Terpercaya

Silakan baca: Jalan-Jalan Asyik ke Asiatique Bangkok dengan efektif

*

CHINATOWN. Malamnya kami ke tempat ini. Tidak jauh dari hotel. Jalan kaki, sembari melihat kiri-kanan, melihat turis-turis yang banyak menginap di seputaran Hua Lamphong. Ini lokasi strategis mereka yang datang ke Bangkok. Saya merasa pilihan kami atas hotel di daerah ini tepat. Mereka yang tinggal jauh dari sini, jika ke Chinatown yang naik kereta dan turun di Stasiun Hua Lamphong. Dari stasiun jalan kaki sepuluh menit, sampai sudah ke tempat ini.

 

Chinatown Bangkok merupakan kawasan Chinatown yang termasuk terbesar di dunia. Ia sudah ada sejak  1782. Berkembang terus sebagai pusat bisnis, dan kini pariwisata malam Bangkok yang termasyur. Jadi, kalau tidak ke sini, jika ke Bangkok, ya…sedikit rugilah.

Masuk ke kawasan ini kita disambut “pintu gerbang” yang mentereng. Pintu gerbang yang seolah “memisahkan” wilayah Chinatown dengan kawasan sekitarnya. Pintu gerbangnya yang khas seolah mengucapkan “Welcome to Chinatown.”

“Gerbang” Chinatown Bangkok

Di kawasan ini ada kuil, Wat Traimit,  yang terkenal dengan patung Golden Buddha. Patung setinggi tiga meter itu konon terbuat dari emas murni.

 

Di Chinatown ini terletak pula kuil Wat Chakrawa yang terkenal dan suda ratusan tahun umurnya. Saya masuk ke tempat ini. Melihat-lihat di dalamnya. Ada sejumlah orang tengah bersembahyang.

 

Jalan yang membelah tempat ini, namanya Yao Warat Road,  hiruk pikuknya.  Warna-warna merah menyala di atas dan sepanjang jalan. Mungkin menyambut Tahun Baru Imlek.  Kendaraan apa pun tumplek di sini. Dari mobil pribadi, bus kota yang jelek dan setengah jelek, hingga kendaraan khas Bangkok tuktuk  -yang mungkin kalau di Jakarta “kelasnya” Bajaj….Pengunjung hilir mudik ke sana-ke mari.

Berjalan-jalan di malam hari di tempat ini yang dicari dan dinikmati ya makanan. Segala makanan, khususnya khas Cina ada di sini. Nasi goreng juga ada. Makanan laut melimpah. Makanan Thailand juga lengkap. Ada yang di pinggir jalan, sepanjang Yao Warat Road, ada di gang-gang, ada juga di restoran-restoran. Dari restoran yang mewah atau yang sederhana. Tapi, tentu saja paling asyik makan di pinggir jalan. Ini yang kami lakukan. Makan di pinggir jalan Yao Warat, di emperan kaki lima yang riuhnya minta ampun itu. Dan untuk makan di kaki lima itu pun perlu antre, gantian dengan mereka yang lebih dulu makan.

 

Meramal nasib..

Di jalan itu banyak orang duduk-duduk atau melihat atraksi tukang masak. Atraksi? Ya, karena si tukang masak, ketika menggoreng, juga melemparkan gorengannya ke udara, dan hap, sembari membalikkan tubuh, menangkap masakan yang jatuh dari udara itu. Asyik melihatnya. Kerumunan orang memenuhi si tukang masak yang tengah berakrobat sepanjang menggoreng.

Si tukang masak yang beratraksi

Videonya:

Sekitar dua jam lebih kami keluyuran di Chinatown sebelum kemudian jalan kaki pulang ke hotel.

Meninggalkan Chinatown, kami memasuki areal jalan yang lengang. Ada rasa waswas juga. Tapi, mengingat ini kota wisata, saya yakin, keamanan tentu dijamin di sini. Dan hati gembira menemui sejumlah warung di pinggir jalan yang masih dipenuhi orang.

Sampai hotel, badan terasa letih, mata mengantuk.  Tak mungkin langsung tidur.  Kami mengepaki sebentar barang-barang yang bisa dimasukkan ke koper dan yang lainnya disiapkan untuk dimasukan dalam ransel atau tas jinjing.

Bangkok sudah sepi.

Dari jendela hotel, jalanan benar-benar lengang. Hanya deru, sesekali kendaraan tuktuk, yang entah pergi ke mana.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s