Meninggalnya Ratusan Petugas KPPS Kita

PEMILU kali ini harus menjadi pelajaran kita semua untuk tidak mengulangi lagi hal yang mengenaskan ini: meninggalnya ratusan anggota atau Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Sistem pemilu yang serentak, tekanan yang muncul dari kiri kanan, dan usia yang tak muda (misalnya ketua RT atau kepala desa yang sepuh dan terpaksa menjadi ketua KPPS karena yang lain menolak) bisa jadi membuat mereka kelelahan, stres, jatuh sakit, dan meninggal.

Cara beriklan yang baik: Cara Pasang Iklan di Majalah Tempo dan Koran Tempo

Hingga kini sedikitnya sudah 400 petugas KPPS meninggal usai mereka menjalankan tugasnya. Ada yang meninggal beberapa jam setelah perhitungan suara, atau beberapa hari hingga sepekan setelah perhitungan suara. Hingga kini dilaporkan masih banyak petugas KPPS yang sakit, dirawat di rumah maupun rumah sakit. Kita mengharap pemerintah segera memberi perhatian kepada mereka ini.  Kita berharap mereka juga segera sembuh.

Cara menulis feature yang baik: Teknik menulis feature yang baik

Kita tahu betapa beratnya tugas dan tekanan mereka menjadi petugas KPPS. Tekanan itu terjadi bahkan sejak sebelum pemilu dilaksanakan. Begadang mengurus dan mencocokan daftar pemilih, ikut rapat di kelurahan siang dan malam (jika anggota tak bisa, tentu tugas ketua KPPS), begadang menyiapkan perangkat pemilu di detik menjelang “hari H” dan kemudian bersiap di TPS sejak subuh/pagi lagi, hingga kemudian menghitung suara yang jika keliru harus diulang dan ulang lagi. Sampai dini hari bahkan subuh. Sampai tubuh lunglai, sebelum kemudian mengantar kotak suara itu ke kelurahan. Ketua KPPS harus mengawal itu semua karena ia harus membubuhkan tanda tangan. Harus menjaga suara yang jadi tanggung jawabnya karena jika terjadi sesuatu, ia penerima resikonya -penanggungjawabnya.

Setelah itu ada lagi rapat- rapat di kelurahan yang berkaitan dengan penghitungan suara itu. Tak cukup sehari, dua hari. Siang atau malam. Padahal, ia juga harus bekerja.

Pasang ikla di kereta commuterline: Cara Pasang Iklan di kereta Commuterline

Tekanan terhadap Ketua KPPS bisa jadi muncul lagi dari soal masalah honor (yang misalnya bisa jadi dituduh tidak adil), tidak becus menjadi ketua KPPS (kendati ia sudah begadang berhari-hari), tuduhan memihak salah satu partai, dan seterusnya. Saya bisa membayangka apa yang terjadi jika para petugas KPPS itu orangtua (berumur), mereka yang memiliki penyakit, mereka yang tak sadar tubuhnya mengidap penyakit, dan seterusnya.

Pemerintah, kita semua, harus mengakhiri tragedi ini. Mungkin diubah sistem pemilu agar tak serentak, atau diubah formula anggota KPPS sehingga tak harus dari wilayah setempat. Ketua RT, kepala dusen, kepala desa, dll (yang sudah berumur) bisa terhindar “ketiban nasib” harus menjadi ketua KPPS -yang jika terjadi kekeliruan ia bertanggung jawab dan dipidana- lantaran tak ada yang bersedia menadi “ketua KPPS.”

Saya yakin, kondisi di atas yang membuat para anggota/ketua KPPS sakit dan meninggal dan bukan karena yang lain.

Pengalaman penulis menjadi ketua KPPS: Capek Letih menjadi Ketua KPPS

Karena itulah mempolitisir kematian mereka hanya membuat tekanan lain kepada keluarga yang mereka tinggalkan. Yang mereka butuhkan, mungkin, adalah, bagaimana mereka diringankan beban hidup mereka, jika, yang pergi itu adalah tiang keluarga. (L.R. Baskoro)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s