Cara Menulis Berita Bencana

Saya diminta teman-teman dari PKPU Human Initiative (HI) untuk memberi “pelajaran”  -tepatnya berbagi pengalaman- bagaimana menulis berita bencana. HI adalah lembaga non pemerintah yang berkiprah dalam bidang kemanusiaan. Namanya dulu Pos Keadilan Peduli Ummat yang akronimnya dikenal dengan “PKPU.”  Berdiri sekitar 1999. Akronim itu tampaknya memang “merepotkan” karena banyak yang menyangka ini organisasi  “berbau politik” atau “pemerintah.”  Akronim itu mengingatkan pada akronim KPU, KPPU dsb. Jadi, kalau kemudian berubah nama menjadi Human Initiative, saya kira tepat. Publik langsung tahu ini organisasi yang berhubungan dengan kemanusiaan. Berkiprah di hal-hal yang menyangkut kemanusiaan: bencana, konflik, dst yang ujungnya muncul problem kemanusiaan.

Nah, pada awal Juli lalu, saya diminta teman-teman HI  “bercerita” bagaimana teknik menulis berita bencana. HI rupanya melihat selama ini ada yang tak pas dalam penulisan berita bencana oleh para wartawan, termasuk dalam penayangan gambar. Baik di media cetak, siber, juga televisi.

Pedoman cara menulis opini:Cara Menulis Opini yang Baik dan Cepat

Pedoman cara menulis feature:Cara menulis feature yang baik dan efektif

Saya sependapat. Penulisan berita bencana selama ini condong mengeksploitasi kesedihan. Kedukaan.  Kesengsaraan. Media TV mengulang-ulang potongan gambar yang itu-itu saja. “Itu-itu” dalam arti,  gambar yang dinilai paling dramatis, paling menggambarkan dahsyatnya bencana tersebut.

Ini sah-sahnya tapi sesungguhnya berbahaya.

Jurnalistik pada prinsipnya memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehidupan, menjaga rasa kemanusiaan. Tidak justru merusak nilai-nilai itu. Menghancurkan orang, menghancurkan kemanusiaan, menghancurkan peradaban.

Sebuah cerita tentang Lembaga Pers Dr. Soetomo: Sebuah Ruang di LPDS

Itu sebabnya wartawan tidak boleh menulis berita bencana dari perspektif “mengumbar” bagaimana bencana itu tanpa mempertimbangkan korban bencana.

Wartawan mesti paham ada TRAUMATIK pada korban bencana. Itu yang mesti dijaga. Itu esensi memiliki RASA Kemanusiaan.

Kepada para peserta, para wartawan media cetak, online, TV, dan radio, saya menekankan beberapa hal yang perlu diperhatikan jika meliput peristiwa bencana. Antara lain:

  1. Jangan mewawancarai korban bencana jika ia memang enggan diwawancarai. Terlarang memaksa.
  2. Jangan mengulang-ulang pertanyaan yang membangkitkan kenangannya pada bencana
  3. Segera akhiri wawancara jika terlihat narasumber sudah mulai enggan diwawancarai
  4. Jangan tampilkan foto yang mengekspoitasi kesedihan, mayat, dan sejenisnya.
  5. Tampilkan tulisan yang berisi rasa optimisme, berisi bahwa publik simpati pada korban.
  6. Redaktur mimiliki tanggung jawab besar untuk menulis kembali, mengoreksi tulisan, agar tulisan itu tak memiliki dampak buruk pada korban bencana.
  7. dll

Bersama Mas Romi, salah seorang pengurus HI

Banyak hal yang saya sampaikan dan diskusikan dengan para peserta, yang  beberapa di antaranya juga saya kenal.

Selain kepenulisan tentang bencana, pada kesempatan itu saya juga menjelaskan tentang Pedoman Pemberitaan Ramah Anak, sebuah pedoman yang dikeluarkan Dewan Pers beberapa bulan lalu. Ini pedoman yang mesti dipatuhi wartawan karena menyangkut perlindungan anak yang acuannya juga UU Peradilan Anak. Misalnya wartawan tidak boleh menuliskan nama dan memuat foto anak-anak yang terlibat tindak pidana, termasuk saksi anak-anak.

 

***

PADA  acara yang berlangsung di Depok tersebut, saya juga bertemu dengan teman lama saya, “Adong” Ramadhan. Adong (nama lengkapnya saja tak hafal karena di kampus dulu saya biasa memanggil “Adong” saja) adalah adik klas di Fakultas Filsafat UGM. Lebih dari 25 tahun  saya tidak bertemu dia. Dulu kami sama-sama giat di pecinta alam. Saya ketika itu lebih aktif naik turun gunung ada pun Adong, kalau tidak keliru, aktif di kegiatan dayung.

Bersama Adong Ramadhan

Beda dengan saya yang masuk jalur dunia wartawan, Adong memilih terjun dalam dunia LSM. Ia kini bergabung dengan Catholic Relief Services (CRS). Ia sudah keliling ke berbagai benua dalam rangka menjalankan misi kemanusiaan. Dalam acara “Bagaimana Menulis Berita Bencana yang Benar” itu, Adong membawakan materi tentang Sphere

Sephere, secara singkat, adalah protokol “bagaimana  menangani bencana” yang menjadi pegangan lembaga-lembaga besar dunia jika terjadi bencana. Banyak hal penting dalam sephere yang menurut saya perlu diketahui tak hanya wartawan, juga lembaga pemerintah (terutama di daerah) dan organisasi pecinta alam, pramuka dll yang biasanya merupakan pihak-pihak terdepan jika terjadi bencana. Misalnya, bentuk pertolongan apa pertama diberikan, bagaimana membantu para korban tanpa membuat mereka tergantung dsb.

Pengalaman saya  -dan tentu kita semua bisa menilai-  banyak wartawan yang tak paham menulis dan mereportase peristiwa bencana dengan perspektif kemanusiaan. Memang tak mudah, tapi itu harus dilakukan. Dipelajari, dan diterapkan. ***

Transporasi Jakarta yang asyik: Transportasi Jakarta. Dari kereta commuterline dan bus kota yang asyik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s