Jalan Tol Jokowi | Menikmati Tol dari Jakarta sampai Madiun

Benar-benar mulus dan tanpa halangan Sabtu pekan lalu saya berkendara dari Jakarta menuju Ponorogo lewat jalan tol.  “Jalan tol Jokowi,” demikian julukan orang, memang cocok untuk mereka yang ingin cepat-cepat meluncur dari Jakarta ke “Jawa” melalui darat.

Bertiga, dengan saudara,  berangkat pukul lima pagi sampai Ponorogo pukul dua siang. Ya, hanya sekitar delapan jam.  Praktis yang justru agak terhambat sedikit adalah jalur dari Madiun ke Ponorogo yang memang tidak lewat tol.

Kerajinan reog di Ponorogo

Sebenarnya tak ada rencana pergi ke kota reog itu. Yang punya urusan ke sana  kakak ipar. Tapi setelah ngobrol ke sana-ke mari, akhirnya sayapun ikut.  Setidaknya saya menemani ponakan yang  bertugas menyetir. Ada hikmah lain: bisa menengok sanak sauadara yang banyak tinggal.

Jika memakai mobil sendiri melalui “tol Jokowi” yang menghubungkan Jakarta-Surabaya ini, sebaiknya memang ada yang “menemani” sopir. Dengan kondisi jalan lurus, sepi, dan jarak jauh, pengendara bisa lengah, hilang konsentrasi.  Karena itu,  jika ada yang mengajak ngobrol  -tentu  tidak sepanjang jalan- itu bagus untuk sopir  -ada “hiburanya.” Kalau pun tidak mengobrol, setidaknya  sang sopir juga merasa tenang karena ada teman “melek.”

Jalan tol yang lengang di pagi hari

Sabtu kemarin  jalan benar-benar lengang. Tol Cikampek  yang saya khawatirkan macet karena ada proyek LRT ternyata sepi. Sepanjang tol, dari Tol Cikampek, Cipali sampai, entah tol apa namanya, bisa dibilang tak terlihat kendaraan lebih dari lima. Jalan tol serasa milik sendiri. Saya melirik spedometer. Jarumnya menunjuk 120-an km- jarang turun dari angka itu.

Ini pengalaman ketiga saya naik mobil ke arah Jawa Timur.  Pertama saat hari raya mungkin 13 tahun silam. Namanya hari raya, maka bisa dibilang bagaimana macetnya walau hari rayanya sudah  lewat dua hari. Kemacetan yang membuat saya berpikir,  “Ini pertama dan terakhir  “ke Jawa” dalam suasana lebaran.”

Kedua, saat liburan, dengan anak-anak membawa mobil sendiri ke Yogya sekitar delapan tahun silam. Masuk Semarang lalu turun ke arah Magelang, saya menikmati kemacetan yang membuat kepala nyutnyutan. Saya ingat benar  titik kemacetan itu: memasuki kota Semarang  dan  keluar Semarang menuju Ungaran.

Belum ada “tol Jokowi” waktu itu.

Karena itu saat kemarin ke Ponorogo, dari tol ke tol, saya berpikir, kayaknya perlu juga dicoba kapan-kapan bersama keluarga melalui jalan tol ini.

 

Cara pasang iklan billboard atau baliho:Cara pasang iklan billboard di Jakarta dan kota lain

 

Yang juga menyenangkan rest areanya cukup bersih dan mesjidnya bagus-bagus. Bentuknya artistik.  Jika petugas kebersihannya terus rajin menjaga kebersihan semua rest area itu, saya yakin pengunjung betah berlama-lama ngopi di tempat ini.

Mesjid di rest area

Satu-satunya rest area terjelek adalah jalur menuju Brebes  dari arah Jawa Timur. Rest area ini lokasinya cukup besar –sebelum masuk Brebes.  Saat itu kami hendak mampir lantaran  mau mengisi bahan bakar. Ada simbol pengisian BBM di tepi jalan menuju lokasi itu. Tapi, begitu masuk, alamak, tempatnya bak lokasi pengungsian: banyak kios-kios dari tenda. Pompa bensin terlihat di kejauhan dalam bentuk pompa mini. “Bensin habis, kalau mau bisa minta tolong dibelikan di kampung  belakang,” ujar seorang perempuan dengan ramah. Oh, rupanya rest area ini berdempetan dengan kampung.

Rupanya begini  pasang iklan di kereta commuterline: Cara pasang iklan di kereta commuterline

Kumuh, kotor, demikian juga toilet yang disediakan.  Ruang kamar mandi dan toiletnya sih oke, besar dan jelas itu dibangun pemerintah. Tapi, ya itu, kotor sekali. Dan beda dengan semua rest area yang ada di jalan tol, ada petugas yang berjaga dan meminta pengunjung membayar bagi yang memakai toilet.

Sunset di tol menuju Tol Cipali

Mungkin rest area ini sengaja “dihadiahkan” Pemerintah –PU- untuk warga sekitar. Tapi, saya kira kalau pengelolaannya seperti ini, tak akan ada orang yang sudi mampir. Kami sendiri, tak lebih dari sepuluh menit di situ, lalu tancap gas lagi, dan sekitar setengah jam dari situ, ada rest area lagi. Kali ini benar-benar rest area yang menyenangkan. Nikmat untuk sholat, nikmat untuk mencecap kopi.

Mau bikin  novel yang baik: Cara membuat novel yang baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s