Operasi Katarak Bersama Dokter Mata Azrief

Saya masih mengingatnya jelas. Rabu, 18 Maret 2020 itu, di sebuah ruang lantai 3 RS Mulia, Bogor, kami berempat berbaring berjejer pada dipan yang masing-masing berjarak sekitar dua meter. Saya nomor tiga. Baju dan celana sudah ditanggalkan dan diganti piama warna hijau muda dan topi operasi yang segera mengingatkan saya pada sebuah topi yang bertahun silam pernah saya pakai saat masuk ke pabrik pembuatan satelit di Prancis.

Silakan baca: Bertandang ke Pabrik Satelit Thales Alenia Space Prancis

Di depan saya, di sebuah tembok tergantung sebuah jam. Sudah pukul 17.00 dan belum tiba giliran saya. Istri saya yang mengantar saya ke rumah sakit ini menunggu di luar, bersama sejumlah penunggu lain yang dibatasi jumlahnya –karena adanya wabah Corona.

Ruang operasi itu kendati hening dari pembicaraan, tapi tidak hening dari suara. Sayup-sayup terdengar lagu-lagu pop Indonesia, yang saya tidak tahu penyanyinya, tak putus-putus. Saya terbujur kaku. Tak henti-henti berdoa. Semoga operasi ini lancar. Semoga tak ada masalah apa pun. Semoga penglihatan saya kembali normal…

Sepekan sebelumnya, dokter Azrief yang memeriksa saya memutuskan saya harus operasi katarak. Saya langsung mengiyakan.  Ini pemeriksaan kedua setelah sepekan sebelumnya saya datang ke rumah sakit ini untuk memeriksakan mata sekaligus melihat kemungkinan untuk operasi. Kedatangan kedua, pemeriksaan lebih rinci. Mata saya juga di USG  -saya tak tahu apa gunanya, konon untuk melihat kadar tekanan bola mata.

***

Masalah yang menimpa mata kanan saya ini sebenarnya sudah cukup lama, mungkin hampir dua tahunan. Kabur. Mungkin karena awalnya kaburnya tak parah, saya biarkan saja. Belakangan karena merasa agak parah, saya kemudian memeriksakannya pada dokter mata RS Azra, Bogor. Dokter menyatakan itu gejala katarak dan membuat resep untuk kacamata baru. Maka, saya pun membuat kacamata baru dengan harga yang, ya..lumayanlah.

Dokter tersebut kemudian meminta saya untuk datang  tiga bulan lagi. Tapi, saya tidak lakukan itu. Saya mempertimbangkan untuk memeriksa, antara lain, di RS Mata Aini.  Tapi, belum lagi ke Aini, seorang teman memberitahu perihal  RS Tjiptomangunkusumo (RSCM).  “Di sana bagus dan ada beberapa klas, ada yang khusus dengan pelayanan kelas satu,” katanya. Pertimbangan lain kemudian muncul lagi. Ada seorang kenalan yang menyatakan bisa bantu saya. Ia staf rumah sakit mata RSCM. “Nanti saya bantu supaya tidak antre lama,” katanya.

Pada, 19 Februari 2020 saya pun ke RSCM. Naik kereta, turun di Stasiun Cikini. Dan betul kata sejumlah teman, pagi-pagi rumah sakit ini sudah dipenuhi pengunjung. Hiruk pikuk.  Ada “tiga klas” soal pengobatan mata di sini: Klas BPJS, Klas Menengah, dan klas VIP, yakni “Kelas Kirana.”

Saya mendaftar, sebagai peserta baru, Rp 75.000 –pendaftaran untuk umum dalam “klas BPJS”.  Dan dari sinilah kemudian saya diperiksa. Memang profesional RS ini. Susternya teliti. Pertama, diperiksa secara umum oleh perawat, kemudian dioper lagi ke bagian untuk mengetes apakah penglihatan kita hanya perlu “pengobatan” biasa (mata minus atau plus) atau perlu tindakan lain. Ujung pemeriksaan ini kemudian  ditangani seorang dokter.

Saya ingat,  saya ditangani seorang dokter muda –mungkin sedang magang sebagai dokter mata- yang menyebut mata saya katarak. Ia menyatakan mata kanan saya kataraknya tebal sedang kiri nyaris tidak ada.  Menurut dia, ini agak aneh, karena mestinya paling tidak dua-duanya sama. Ia menyatakan tak bisa melihat kondisi retina mata kanan saya lantaran kataraknya tebal.  “Harus di-USG supaya kelihatan retinanya bagus atau tidak,” ujar Bu Dokter ini.

Sebenarnya hari itu juga saya minta di USG supaya jelas apakah retina saya baik atau tidak. Jika baik, operasi katarak lanjut. “Kalau retina rusak, harus diperbaiki dulu,” ujar Bu Dokter ini. Tapi, rekan saya, petugas RSCM ini berbisik. “Operasi di Bogor saja, di saja juga ada,” katanya meyakinkan saya. Mungkin dia kasihan melihat saya harus merogoh duit sekitar Rp 250 ribu untuk USG “sekadar” melihat kondisi retina.

***

Demikianlah kemudian saya ke RS Mulia dan diperiksa dokter Azrief ini.  Dokter ini bernampilan santai. Sebelumnya saat menunggu giliran dipanggil, saya sempat bertanya pada sejumlah pasien yang habis dioperasi perihal sang dokter. Rata-rata mereka memujinya. ”Orangnya baik, operasi juga nggak lama, saya cuma tujuh menit,” ujar seorang ibu dengan logat Batak kental  menunjuk matanya yang masih ditutupi semacam tabung plastik. “Yang ini bahkan lebih cepat, lima menit,” ujarnya menunjuk mata kirinya. Oalah, rupanya dia sudah dua kali dioperasi. “Nggak sakit, mata kita dibuat  nggak kerasa,” ujarnya lagi.

Di rumah saya browsing siapa dokter ini dan kesimpulan saya, ia dokter senior. Sudah banyak makan asam garam soal operasi mata. Sepekan menjelang operasi mata saya di USG. Alat canggih itu dilekatkan ke mata saya,tak lebih satu menit, dan semua data mata saya pun terekam. Dokter Azrief mencatat data itu dibukunya.

***

Pasien pertama sekitar setengah jam rampung dan kemudian pasien kedua masuk. Berdiri dari tempat tidurnya, saya melihat ia dibimbing seorang suster masuk ruang operasi. Lama sekali, hampir satu jam lebih. Selama itu pula saya tetap terbujur dan berdoa. Kemudian saya lihat dari jauh pasien itu keluar duduk di sebuah kursi dan suster memberitahu perihal operasinya yang harus diulangi lagi. Suster itu dengan sabar membesarkan hati sang bapak yang matanya tampak sudah ditutup “pelindung mata.” Deg, saya tahu ada sesuatu yang terjadi dengan operasi itu. Saya gelisah. Pantas, operasi bapak itu demikian lama.

“Ayo sekarang gilirannya,” suara suster mengejutkan saya. Dengan sedikit berdebar saya turun dari ranjang. “Santai saja, tenang,” katanya. Saya tersenyum. Suster yang saya temui di rumah sakit ini semua ramah. Saya pun masuk ke ruang operasi.

Dokter Azried menyambut saya.” Tenang Pak,” katanya ramah. Ia menyuruh saya berbaring. Dua suster berada di sampingnya. “Kita tutup matanya yang satu ya,” ujar Pak Dokter ini. Semacam kain kemudian menutup mata saya, tapi untuk mata kanan ada bolongannya. Sebuah lampu tepat di atas mata menyala.  “Kita akan membuat mata bapak kebas, harap tetap terbuka,” ujarnya. Saya merasa kemudian sebuah cairan dimasukkan ke mata saya. Selain obat untuk kebas, ada juga obat tetes untuk melebarkan pupil.

Selama proses operasi ini saya sadar sepenuhnya. Mengikuti obrolan dokter dengan dua susternya. Kesan saya, suster itu juga sudah ahli dalam soal mata. Mungkin ya lantaran kerap mendampingi operasi semacam ini. Mungkin ratusan atau ribuan kali.  Sepanjang operasi, lagu-lagu pop Indonesia terus terdengar. “Bagus ini,” saya mendengar suara suster mengomentari mata saya. Mendengar kalimat itu  hati saya lega. Saya berkesimpulan tak ada masalah dengan mata saya. “Ya, bagus,” suara dokter Azrief kemudian terdengar membuat hati saya makin tenang.

Yang saya rasakan kemudian sebuah alat mengorek-orek mata saya. Dan selama itu air terus mengucur ke mata saya. Tak terasa apa pun, sampai  kemudian dokter Azrief berujar. “Sekarang kita pasang lensanya. Terus terbuka dan jangan goyang,” katanya. Ya, ini puncak operasi itu: memasang lensa. Setelah beberapa kali diputar-putar untuk mem-pas-kan, akhirnya lensa itu terpasang. Selesailah operasi ini. “Sembilan menit,” ujar dokter Azrief. Oh, dokter ini rupanya selalu memberitahu pasiennya waktu operasi yang ia lakukan.

“Coba lihat, keliatan kan,” ujar suster menunjukkan lima jarinya. Saya tutup mata kiri saya.  Alhamdullilah, saya melihat lima jari itu walau kabur. Padahal sebelumnya benda sedekat itu saya tak sanggup melihat. Sebelum keluar ruang operasi saya mengucapkan terimakasih kepada dokter Azrief. Saya sempat bertanya perihal hasil USG sepekan sebelumnya yang mendeteksi retina saya. “Bagus kok retinanya,” ujar dokter Azrief. Di luar ruang operasi, kepada suster yang membimbing saya ke tempat penyimpanan baju saya, saya bertanya. “Jika keparahan katarak 1 sampai 5, kondisi katarak saya ini berapa, suster?”

Tanpa berpikir panjang suster itu menjawab, “Lima.”  Wah, pantas.

***

Sederet larangan operasi diberikan sebelum pulang yang tertulis dalam selembar kertas: tidur harus terlentang, jika keluar rumah harus pakai alat pelindung, tiap malam alat pelindung harus dipakai, jangan batuk, jangan bersin, kalau sholat jangan rukuk atau sujud, jangan kena air, jangan berhubungan suami isteri. Jangan diucek-ucek matanya, jangan mengejan…. Saya tentu saja tak akan bodoh melanggar perintah ini.

Sebelum operasi saya sendiri sudah mengelap dan membersihkan semua isi kamar tidur saya, termasuk mencuci gordinnya. Saya sudah mengantisipasi semua ini. Dari apotek saya mendapat dua obat yang diteteskan setiap sepuluh menit selama setiap satu jam selama seminggu. Saya diminta untuk kontrol setiap pekan.

Operasi saya adalah operasi dalam musim Corona. Dan waktu kontrol saya  adalah saat Corona menuju puncaknya, saat semua rumah sakit, para dokternya,  heboh kekurangan Alat Pelindung Diri (APD).

Saat kontrol pertama, suasana benar-benar tidak enak. Saya memakai masker dua lapis dan berusaha tidak bersinggungan dengan siapa pun. Rumah Sakit Mulia sepi dan siapa pun yang masuk diperiksa suhu tubuhnya dan cuci tangan dulu. Saat saya masuk saya melihat dokter Azrief memakai jas hujan warna hijau  -ya suasana agar tidak terinfeksi Corona demikian jelas.  Tak lama pemeriksaan itu. Untuk memastikan lensa yang dipasang mata saya sudah oke. Oleh suster mata saya dites. Saya paham, rupanya mata saya akan menjadi terang dengan perlahan-lahan.  Saya kemudian diberi obat lagi yang diambil di apotek. Kali ini dipakai setiap empat jam. Minggu depannya saya kontrol lagi. Mata juga makin terang.

Kontrol itu berakhir pada 13 April. Artinya sejak operasi, harus kontrol tiga kali. Pada kontrol terakhir, dokter Azrief memberi resep ukuran lensa kacamata jika saya memesan kacamata. Mata saya dinyatakan sudah sembuh.

“Apa yang  masih harus saya patuhi dari aturan ini,” ujar saya menunjukkan  lembaran kertas sejumlah larangan pasca operasi yang pernah saya terima.

“Robek saja, sudah nggak berlaku,” kata dokter Azrief sembari tersenyum.

“Saya boleh berenang?”

“Boleh, apa saja boleh seperti mata normal. Yang panting jangan sampai terbentur.”

“Kapan saya periksa lagi?”

“Enam bulan lagi,” ujarnya..

Saya mengangguk, mengucapkan terimakasih dengan merapatkan dua tangan saya.

Kini mata saya kembali normal.[]

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s