Peyek Pak Mohari

Bapak penjual peyek itu tak pernah saya lihat berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Ia berjalan begitu saja, menyusuri jalan di kompleks perumahan saya, dan baru datang atau menengok  ketika orang memanggilnya  -dengan suara agak kencang.

Pertama saya melihatnya ketika akan berangkat kerja sekitar enam bulanan silam. Dengan pikulannya dia berjalan tertatih-tatih. Kerentaan tak bisa disembunyikan kendati tubuhnya terkesa kekar. Ternyata di dalam pikulannya itu bertumpuk-tumpuk rempeyek. “Ke rumah itu Pak, saya menunjuk rumah saya, dan meneruskan perjalanan.” Di rumah ada istri saya, dan pasti dia akan membeli karena memang kami hobi makan peyek.

peyek1

Sejak itulah, jika saya melihat dia, saya akan memanggilnya.  Saya membeli peyeknya yang seharga  Rp 5.000  per bungkus. Ya, benar-benar hanya jika melihat karena memang lebih banyak tidak melihatnya ketimbang melihatnya. Penyebabnya itu tadi, bapak ini hanya memikul dan berjalan saja. Tidak berteriak-teriak atau menawarkan dagangannya, apalagi mengetuk-ngetuk pagar.

Juga setelah saya membeli pertama kali. Ia tak berusaha lagi untuk datang dan menawarkan peyeknya. Begitulah caranya berdagang. Berjalan tertatih-tatih entah ke mana dan sampai mana.

Namanya Pak Mohari. Umurnya, ia menyebut,  70 tahun. Anaknya empat. Ia mengaku tinggal di sebuah kampung di dekat kompleks perumahan saya.  Saya tidak tahu berapa jumlah peyek yang dibawanya. Tapi, melihat besar pikulannya, jelas lebih dari seratus bungkus isinya.

Dia bukan orang Bogor.

“Saya dari Tegal,” katanya. Logat Tegalnya masih terdengar. “Sudah 32 tahun di Bogor,” katanya. Suaranya masih sangat jelas.

Pak  Mohari menyebut peyek yang dijualnya itu adalah buatan istrinya. Peyeknya tebal: ada bercampur kacang, ada bercampur teri. Ke empat anaknya sudah berkeluarga dan menyebar.

peyek4

Luar biasa. Orang setua ini  -lebih tepatnya pasangan setua ini-  masih terus bekerja mengisi kehidupan dengan karya mereka sendiri, penganan sederhana. Mereka  bekerja, mandiri dan  tak menggantungkan hidupnya pada anak-anaknya. Semestinya anak-anak muda, perempuan muda yang sering saya temui mengemis di pinggir jalan malu dengan Pak Mohari.

Ahad lalu, ketika kami, bersama saudara istri saya, akan bepergian ke rumah seorang saudara, saat saya membuka pagar, kakek penjual rempeyek itu sedang berdiri di seberang jalan.  Saya memanggilnya. “Peyek Pak…”

peyek5

 

peyek2

Ia datang menghampiri. Kami membeli beberapa buah.  Pak Mohari menerangkan, harga peyeknya sudah naik menjadi Rp 6.000. Saya pikir sudah sewajarnya. Itu tentu karena kenaikan BBM. Dan ia hanya menaikkan seribu rupiah saja.

Ia tak keberatan ketika saya memfotonya. Setelah mengucapkan terimakasih ia berlalu. Semoga Tuhan memberi kesehatan dan umur panjang untuk beliau.

peyek3

One thought on “Peyek Pak Mohari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s