Kopi Asiang, Barista Tanpa Baju dari Pontianak

Nama Asiang saya dengar dari sejumlah mahasiswa di Pontianak yang ikut pelatihan menulis yang diselenggarakan Tempo Institute bersama Friedrich Ebert Stiftung di Gedung Bank Indonesia Pontianak.

Ketika itu, awal bulan lalu, bersama sejumlah wartawan Tempo lain, Yosep Suprayogi, Daru Priambodo, Istiqomatul Hayati, dan Anton Aprianto, kami diminta memberi pelatihan menulis untuk sekitar 200 perserta yang terdiri dari  mahasiswa, guru, dan sejumlah aktivis LSM di kota Khatulistiwa itu. Saya kebagian sesi pertama, memberi materi yang isinya bertujuan memberi motivasi para peserta untuk menulis.

Saya tidak tahu kenap a saya kebagian materi ini  -padahal biasanya memberi materi “bagaimana cara menulis opini, berita,  atau sejenisnya.” Saya menduga, Tempo Institute meminta saya memberi materi itu lantaran saya dianggap lebih punya “bekal” untuk hal demikian. “Cak Bas kan selain sering menulis di mana-mana, juga sudah menerbitkan sejumlah buku. Cocok lah materi itu untuk Cak Bas,” kata seorang anggota “pasukan” Tempo Institute yang rambutnya kriwil-kriwil meyakinkan saya memang pas memberi materi seperti itu.

Pelatihan kepenulisan di Gedung Bank Indonesia, Pontianak

Begitulah, akhirnya, saya memberi materi motivasi  “apa guna, menarik,  dan asyiknya” menulis yang kemudian dilanjutkan materi “bagaimana menulis yang baik,”  “bagaimana teknik menulis”  yang diberikan teman-teman lain.  Saya tekankan pada para perserta,  mereka mempunyai tanggung jawab untuk menangkal hoaks dan bukan justru menyebarkan. “Dengan penulisan disertai argumentasi yang kuat, maka pembaca akan bisa kita sadarkan bahwa berita A itu misalnya hoaks,” demikian ujar saya.  Maklum saat itu hoaks  sedang jadi pembicaraan di mana-mana.

Nah, selain mendapat materi, kemudian menyampaikan kesan-kesan mereka atas materi yang diberikan oleh para pembicara, peserta kemudian dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk kemudian menulis topik-topik berkaitan dengan daerah mereka, Pontianak, dengan ilmu kepenulisan yang diberikan para pembicara.

Menulis dan menempelkan kesan-kesan,,,

 

Di sinilah kelompok yang saya bimbing menulis tentang “Kopi Asiang.”

“Memang hebat kedai kopi itu?” tanya saya.

“Iya Bang, ramai terus. Ciri khasnya yang jual kopi  nggak pakai  baju,” kata peserta lain. Saya kaget.  Aneh. Memang ada orang berjualan tidak berbaju. Ote-ote?

“Yang beli laki-laki semua dong?” tanya saya lagi.

“Nggak, yang perempuan juga ada,” seru temannya yang lain.

Demikianlah, nama Asiang petang itu  masuk kuping saya dan membuat saya penasaran: bagaimana wujud kedai kopi yang pembuatnya tanpa baju. Terbayang keringatnya berceceran, menetes masuk cangkir, tenggelam, dan menyatu dengan kopi hitam pekat….Tapi kok rame?

Esoknya dengan sejumlah teman, saya meminta sopir  mengantar saya mencari kedai Asiang. Sekitar pukul 12 siang, sampailah kami ke kedai itu, sebuah kedai di Jalan Merapi. Jalan masuknya hanya cukup untuk satu mobil dan sejumlah warung berderet di kiri kanan, termasuk warung kopi lain.

Dan benar. Pemadangan di kedai itu aneh bin ajaib. Kedainya sebenarnya terhitung ala kadarnya. Tapi di dalamnya, astaga, berjejalan aneka manusia: laki, perempuan. Sendirian, berdua, bertiga,  bergerombol, membawa anak, membaya bayi dll. “Ini apa orangtuanya nggak tahu kalau asap rokok di sini bisa membahayakan bayinya,” kata teman saya, Isti, dengan sewot, melihat sepasang suami-istri ngopi sembari membawa bayinya yang mungkin berumur kurang setahun.

Pengunjung Warung Kopi Asiang

Walau ada kipas angin, udara di dalam kedai ini cukup panas. Ya, karena berjejalan orang-orang itu. Terbersit juga dalam pikiran: apakah orang-orang ini tidak ada kerjaan sehingga siang-siang begini ngupi? Tapi, saya hilangkan praduga itu “Ya, siapa tahu mereka juga seperti saya. Pengin lihat apakat keringat Asiang menetes ke cangkir kopi yang dibuatnya..”   Jangan-jangan rahasia kenikmatan kopi Asiang, jika memang nikmat, terletak pada karunia bagian tubuhnya yang tak berbaju yang terpancar dalam puluhan cangkir kopi yang dibuatnya.  Siapa tahu….

Maka saya merapat ke Asiang, lelaki berumur sekitar 65 tahunan yang tengah membuat kopi tersebut. Tubuh Asiang bisa dibilang agak gemuk. Ia  benar-benar bertelanjang dada -hanya bercelana kolor. Dada dan lengannya -keren- bertato. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Tak tersenyum, meringis, apalagi tertawa. Wajahnya datar saja.  Ia seperti tak peduli terhadap orang di sekelilingnya –juga kehadiran saya sebagai konsumennya yang berjarak hanya dua meter di depan hidungnya, di sampingnya, di belakangnya– yang kadang memfoto, dan mengamati bagaimana ia meracik kopi.

Asiang memang benar-benar barista sejati. Gerakan tangannya menyeduh air panas dari sebuah panci besar mendidih di depannya, mengangkat saringan kopi, dan kemudian menggerojokkan air ke dalam cangkir-cangkir,  berjalan bak mekanis. Berirama tanpa putus-putus bagai pendekar shaolin memainkan jurus-jurus silatnya. Melihat kegesitannya di usianya yang tak muda  -juga tak melihat ia ngos-ngosan  memutar-mutar lengannya tak henti-henti-    bukan mustahil, seperti kebanyakan warga keturunan Cina yang berumur seperti dia, ketika remaja Asiang pernah belajar kungfu, belajar pernafasan tai chi chuan. Siapa tahu….

Hanya dalam hitungan detik ia bisa membuat belasan cangkir kosong di depannya berisi kopi atau kopi susu. Telinganya saya kira hanya dipakai mendengar teriakan anak buahnya yang berteriak lantang:  “kopi  tujuh, kopi susu lima,”  dan seterusnya, sambung menyambung. Di luar itu saya kira, konsentrasinya ya mengolah kopi tak henti-henti itu. Mengisi cangkir kosong yang datang tak putus-putus.

Sepanjang hari hingga malam dialah aktor tunggal peracik kopi di sana. Itu sudah dilakukannya selama 30 tahun. Di dinding sempat saya melihat Bank Mandiri membuatkan foto Asiang sedang mendemonstrasikan keahliannya.  Saya tidak tahu apakah Museum Rekor Indonesia (Muri)  milik Jaya Suprana sudah memasukkan Asiang ke catatan “Musium rekor-nya” itu.  Setidaknya 30 tahun membuat kopi tanpa baju tentu tidak sembarangan orang bisa. Dua hari saja, mungkin,  sudah banyak yang tepar, masuk angin…

Saya amati dari dekat tubuh Asiang. Tak berkeringat. Tak ada keringat menetes atau membanjir di bagian tubuhnya yang terbuka. Luar biasa. “Memang begitu saja dia. Nggak berhenti selama masih ada yang pesan,” kata Fitri –kalau tidak salah- salah satu pelayan Kopi Asiang yang sudah dua tahun bekerja di kedai itu. Menurut Fitri ada sejumlah pelayan yang juga sudah 30 tahun bekerja di kedai kopi ini bersama Asiang kala masih muda.

Kami memesan tiga  kopi susu dan satu gelas teh tarik. Saya menyeruput kopi dari gelas kecil itu. Merasakan apa bedanya dengan kopi sejenis. “Memang lain, enak,” kata Pak Daru, demikian saya memanggilnya, teman saya yang sempat memvideokan Asiang itu.

Kopi susu dalam gelas keramik kecil khas Asiang

Bagi saya sendiri sih, kopi susu Asiang itu terlalu manis. Mungkin karena susunya terlalu banyak.  Tapi, setidaknya saya sudah mencoba mencicipi Kopi Asiang yang “dipromosikan” para mahasiswa peserta pelatihan penulisan itu. Harganya? Tak mahal. Segelas kopi susu yang kami pesan Rp 9.000 dan teh tariknya Rp 10.000.

Dari sisi bisnis bisa dibayangkan memang kesuksesan Asiang menangguk fulus dari kedainya  dan mungkin tak ada barista atau warung kopi  lain di Pontianak yang punya nyali mencoba   menjiplak “trademark” Asiang: membuat kopi sembari  telanjang dada. Saya kira tak akan ada yang berani. Jadi,  barista gaek tanpa baju ini akan tetap “melaju” sendirian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s